Welcome to Psycho Zone :)

Jumat, 16 Maret 2012

Contoh Kasus Classical Conditioning

Saat saya berusia 10 tahun, saya pernah digigit 2 anjing sekaligus. Seingat saya waktu itu saya disuruh mama membuang sampah ke depan rumah terus waktu hendak meletakkan sampah ke tempatnya, tiba-tiba saja ada 2 ekor anjing yang berlari ke arah saya dan ingin menggigit saya. Waktu saya mendengar gonggongan anjing tersebut semakin dekat saya spontan melihat dan lari. Namun lari saya tidak sebanding dengan lari anjing tersebut sehingga mereka berhasil menggigit saya (1 gigitan di bokong dan yang 1 lagi di paha). Sesudah itu saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk disuntik untuk mengantisipasi kalau saja anjing itu terjangkit penyakit rabies. Mulai dari situ saya takut kalau melihat anjing walaupun anjing tersebut tidak ada niat mencelakakan saya. Karena melihat saya sangat takut sama anjing, kakak saya mengatakan kepada saya kalau ada anjing jangan pernah lari karena kalau saya lari mereka akan mengejar saya dan menggigit saya. Mulai dari situ saya belajar untuk tidak takut lagi pada anjing.

Kira-kira mengapa ya saya bisa takut sama anjing dan belajar untuk tidak takut lagi?

Pembahasan:

Classical conditioning adalah suatu proses belajar dimana stimulus netral dipasangkan dengan stimulus alamiah untuk menghasilkan respon yang identik dengan respon ilmiah. Teori ini ditemukan oleh Ivan Pavlov saat dia melakukan percobaan terhadap anjingnya. Saat itu Ivan Pavlov secara berulang-ulang membunyikan bel dan disertai dengan adanya makanan, ternyata anjing tersebut mengeluarkan saliva. Pada suatu saat Ivan Pavlov hanya menbunyikan bel dan anjing tersebut tetap mengeluarkan salivanya walaupun tidak ada makanan.

Istilah-istilah dalam classical conditioning:

1. Stimulus netral yaitu stimulus yang tidak menghasilkan respon apa-apa.
(saat ada anjing saya belum menimbulkan respon apa-apa).
2. Unconditioned stimulus (UCS) yaitu stimulus yang menghasilkan suatu repon sebagai adanya tanda proses belajar sebelumnya.
(anjing tersebut mengejar saya).
3. Unconditioned response (UCR) yaitu suatu respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dimunculkan oleh UCS.
(saya spontan berlari saat anjing tersebut mengejar saya).
4. Conditioned stimulus (CS) yaitu stimulus yang sebelumnya netral namun akhirnya mendatangkan respon yang terkondisi setelah diasosiasikan oleh UCS.
(ada anjing yang diam dan tidak berniat mencelakakan saya).
5. Conditioned reponse (CR) yaitu repon yang dipelajari terhadap stimulus yang terkondisi yang timbul setelah pemasangan CS-UCS.

Inteligensi

Inteligensi itu adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi serta belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Minat terhadap inteligensi sering kali difokuskan kepada perbedaan individual dan penilaian individual.

Tes Inteligensi Individual
1. Tes binet. Alfred Binet diminta oleh Menteri pendidikan Perancis untuk menyusun metode guna mengidentifikasikan anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Lalu Binet dam muridnya, Theophile Simon, menyusun tes inteligensi tersebut dan disebut Skala 1950.
2. Skala Wechsler. Dikembangkan oleh David Wechsler untuk menguji anak usia 4-6 1/2 tahun dan anak remaja usia 6-16 tahun.

Tes Individual VS Tes Kelompok
Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis daripada tes individual, namun ada juga kurangnya. saat tes dilakukan pada suatu kelompok besar, peneliti tidak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dll karena mungkin sebagian murid tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu oleh murid lainnya.

Minggu, 11 Maret 2012

Manfaat E-mail, Blog dan Fenomena Pendidikan


Bagaimana pandangan dan penilaian kelompok anda sehubungan dengan kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Pendidikan 3 SKS tahun 2011/2012 harus memiliki e-mail dan blog ditinjau dari uraian Psikologi pendidkan dan fenomena pendidikan di Indonesia, Medan khususnya?
Penjelasan :
Menurut  kelompok  kami cara pembelajaran dengan menggunakan media sosial khususnya internet dapat membentuk kepribadian yang lebih berani bagi mahasiswa dimana dengan media tersebut khususnya blog, mahasiswa bisa mengungkapkan pendapat dan konsep mengenai suatu mata kuliah. Dimana dia belum pernah berani mengungkapkan pemahannya tersebut secara langsung pada saat tatap muka mata kuliah.
Perilaku berani dalam merespon mata kuliah psikologi melalui gaya baru media sosial online, menghadirkan pola keaktifan dalam diri mahasiswa tersebut. Contoh konkretnya adalah, ketika dalam proses pembuatan e-mail maupun blog dalam rangka mendukung proses belajar-mengajar lewat media sosial internet, terdapat beberapa masalah yang terjadi. Mulai dari kegagalan koneksi ataupun faktor lainnya. Mahasiswa dalam hal ini bertindak aktif (asertif) terhadap dosen untuk dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pembuatan blog tersebut. Praktik ini mendukung teori John Dewey yang menitikberatkan psikologi pendidikan pada keaktifan siswa/mahasiswa.
Belajar menggunakan media sosial seperti email dan blog pada MK. Psi. Pendidikan ini  juga membuat kita mengetahui suatu metode  pembelajaran yang baru dan berbeda dari biasanya  dimana kita dapat melakukan diskusi dengan teman kita secara online tanpa harus  melakukan tatap muka.
Melalui kuliah online ini juga kita dapat lebih kreatif lagi dalam mengeluarkan ide dan pikiran kita dengan tanpa dibatasi oleh rasa takut untuk mengeluarakannya di depan umum. Kita bisa lebih melatih kemampuan kita untuk merangkai kata demi kata supaya terlihat lebih menarik dan mudah dipahami. Di blog juga kita bisa mengeksplor hobby kita tentang sesuatu dan dengan tidak langsung blog tersebut juga dapat mencerminkan kepribadian kita dan apa yang kita suka.
Dampak negatifnya adalah kalau pembelajaran dilakukan melalui media online, kemungkinan besar peserta didiknya tidak mengikuti kuliah tersebut semaksimal mungkin. Melainkan mereka bisa lebih cenderung bermalas-malasan.
Selain itu, jaringan internet terkadang mengalami gangguan yang menghambat proses belajar secara online dan terbatasnya fasilitas yang ada misalnya tidak memiliki PC dan jaringan internet membuat mahasiswa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ke warnet.
Jadi kesimpulannya, kelompok kami mendukung pembelajaran melalui media online. Walaupun terdapat dampak negatif di dalamnya, tetapi dampak positif lebih mendominasi.

Jumat, 09 Maret 2012

Fenomena Training Otak Tengah Dalam Pendidikan

Pertama kali saya mengetahui adanya 'Training otak tengah' ini adalah sekitar setahun yang lalu saat saya menonton televisi. Saya melihat anak-anak yang dilatih itu sangat hebat karena bisa mengenal benda, huruf dan warna bahkan gerakan dengan mata tertutup. Wooow siapa yang tidak terkesan dengan hal itu bukan? itu merupakan kejadian yang saya pribadi saja belum pernah memekirkan sebelumnya.

Tetapi saya sangat terkejut saat melihat sebuah artikel di media online yang mengatakan bahwa teori otak tengah itu adalah sebuah penipuan (mereka mengetahuinya dari tulisan pak Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi UI) dan bukan semata-mata untuk menyalahkan pihak tertentu.
Tulisan dari pak Sarlito itu dapat dibaca di website online yang saya sebutkan di akhir tulisan ini supaya kita dapat mencermati apakah pembelajaran menggunakkan otak tengah itu memang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya atau tidak.

Menurut yang saya pahami dalam tulisan itu bahwa beliau mengatakan teori David Ting tentang otak tengah tersebut hanyalah pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan teori tersebut ilmiah, tetapi tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Pak Sarlito juga mengatakan bahwa "pasalnya memang tidak ada hubungannya antara otak tengah dengan faktor-faktor kepribadian itu. Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting,
pakar otak tengah dari Malaysia itu. Kata Dr Ting, anak yang sudah
ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi makin pintar,tetapi jadi jenius.
Karena itu nama perusahaannya juga Genius Mind Corporation. Malah
bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang sudah terlatih otak tengahnya
bisa melihat di balik dinding, bisa melihat apa yang akan terjadi
(seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa mengobati orang sakit.

Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan Youtube-nya di
internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka KDRT pada
anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti atau
dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiri
lantaran tidak bisa melihat di balik tembok,meramal atau mengobati
orang sakit".
Jadi, kita sebaiknya lebih waspada terhadap keakuratan dari fenomena atau penemuan yang ada.

Sumber : http://gbi-bethel.org

Senin, 05 Maret 2012

Introduction..

Haloo..
Saya Desi Mariana Maloky, panggil aja desi (biar lebih akrab :D). Saya mahasiswi di Fakultas Psikology USU angkatan 2011 dan ini perdana saya blogging lho hihi, rasanya masih kaku dan kurang menguasai gmana caranya blogging yg keren -,- tapi jangan khawatir ya, aku bakalan kasih postingan" menarik dan pastinya usefull banget buat kamu semua hehe ;)
udah ya segitu aja perkenalannya soalnya aku gak mahir merangkai kata", nanti deh aku belajar lagi :D
see you in my next post yaa .
bye :*